Rumah Tanpa Masalah
Ibu Tiongkok kehilangan seorang putra tunggalnya. Ia sangat sedih. Ia lalu menemui seorang pemimpin agama untuk meminta penawar duka.
Ibu itu bertanya, “Adakah yang bisa bapak lakukan untuk mengurangi derita saya?”. Pemimpin agama menjawab, “Temukanlkah biji sesawi dari rumah yang tidak ada masalah. Biji sesawi itu akan menghilangkan masalahmu”.
Ibu itu lalu mendatangi sebuah rumah mewah yang kelihatannya tidak ada masalah didalamnya. Ia lalu mengetuk pintu dan menjelaskan keperluannya. Namun pemilik rumah berkata, “ibu salah alamat”, sambil menguraikan semua masalah dan deritanya. Ibu Tiongkok lalu mencoba membantu dan memberi solusi.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya untuk menemukan biji sesawi dari rumah yang tidak punya masalah. Namun ia tidak kunjung menemukannya. Semua punya masalah yang berbeda-beda. Akhirnya tanpa disadari, ia telah menemukan biji sesawi itu. Karena usahanya, pertolongan yang dia berikan, dan solusi yang dia berikan untuk memecahkan masalah orang lain, ibu Tiongkok melupakan semua kesulitannya, merasa ringan dengan masalah, dan menemukan kebahagiaan.
Cerita ini menyadarkan kita bahwa tidak ada seorangpun yang hidupnya tanpa masalah. Begitu juga dengan keluarga, perusahaan, atau negara. Sayangnya kita cenderung bersikap “missing tile fenomena”, artinya dari ratusan ubin yang terpasang di lantai, kita akan fokus pada 1 ubin yang hilang. Kita cenderung berfikir hanya kita yang punya masalah, sementara orang lain tidak. Padahal itu tidak benar.
Masalah adalah bahasa surgawi yang mengatakan kepada kita bahwa kita punya potensi yang masih tersembunyi. Untuk itu, begitu kita ada masalah, maka itu harus diterjemahkan sebagai kesempatan untuk untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi kompetensi.
Yang harus dihindari ketika ada masalah adalah: mengeluh dan mengaduh. Mengeluh dan mengaduh hanya akan membuat rasa sakit dan penderitaan semakin terasa. Kalau kita menghadapi masalah dengan tegar, maka rasa sakit akan berkurang.
Llihatlah hidup ini seperti permainan ular tangga. Kadang mendapat tangga, kadang mendapat ular. Begitu juga perjalanan hidup kita. Kadang naik, kadang turun. Kalau sedang turun kita harus berusaha untuk bisa naik lagi. Belajar agar jangan sampai dapat “ular” untuk kedua kalinya. Dan pada saatnya, kita akan sampai dititik 100. (am)




You have to be logged in to post comments