Home | Jurnal Banjarmasin | Smartorial: Lubang Hitam Aborsi

Smartorial: Lubang Hitam Aborsi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Angka pengguguran kandungan di negeri, sesungguhnya sudah teramat mengerikan. Setiap tahun, praktik aborsi tanpa alasan medis, bahkan selalu meningkat 15 persen. Tahun lalu saja diperkirakan sekitar 2,5 juta orang melakukan aborsi. Lebih miris lagi, 30 persen dari jumlah itu adalah remaja pranikah. Jadi betapa sulit dilogika akal sehat ketika pemerintah melegalkan aborsi, sekalipun dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 itu, disyaratkan bahwa aborsi hanya boleh ditempuh oleh perempuan karena alasan kesehatan dan atau akibat korban perkosaan.

Pasal ini jelas membuka lubang aborsi semakin besar. Selain rawan diselewengkan, aturan ini mudah dimanipulasi, dan menjadi jalan lempang bagi remaja - remaja yang ingin menggugurkan kandungan. Cukup dengan mengaku diperkosa, maka aborsi pun menjadi legal. Praktik pengguguran kandungan makin terbuka, klinik-klinik aborsi pun tumbuh subur. Inilah yang dicemaskan publik. Kementerian Kesehatan sepertinya tak cermat ketika mempersiapkan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Reproduksi ini. Sekalipun suasana kebatinan pasal ini bertujuan untuk memberikan jaminan kesehatan yang lebih baik terhadap perempuan, pasal aborsi itu menjadi teramat kontroversial.

Perempuan korban kekerasan seksual memang wajib dilindungi. Termasuk memberikan hak kepada mereka untuk menentukan masa depan janin yang dikandung akibat perkosaan itu. Sebab, beban dan penderitaan itu akan terus melekat sepanjang hayat, jika harus menghidupi anak yang tidak diharapkannya. Kita, tentu tidak seharusnya membiarkan korban menanggung penderitaan itu, seumur hidup. Untuk alasan inilah, maka legalisasi aborsi bisa dibenarkan.

Tetapi semestinya ada aturan turunan yang lebih ketat lagi, ada prasyarat yang harus dipenuhi, untuk memastikan bahwa perempuan yang memohon aborsi itu adalah korban perkosaan. Misalnya visum dokter, catatan kepolisian, dan tentu saja persetujuan keluarga korban. Tanpa ada rambu-rambu yang lebih jelas, niscaya legalisasi aborsi itu hanya akan melegalkan pembunuhan demi pembunuhan.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

smartorial

Rate this article

0

Log in