Home | Jurnal Banjarmasin | Smartorial : Hitung Cepat

Smartorial : Hitung Cepat

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Hitung cepat pemilu presiden itu tentu tak akan menimbulkan persoalan jika hasilnya seragam. Tetapi faktanya ada delapan lembaga survei dalam hitung cepatnya yang memenangkan pasangan nomor urut dua, Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sebaliknya empat lembaga survei yang menyebutkan pasangan nomor urut satu, Prabowo Soebianto - Hatta Rajasa unggul dalam pemilu presiden 9 Juli silam. Dua versi quick count ini tentu tak masuk akal. Jika pokok penghitungan itu adalah materi yang sama, dengan metodologi yang benar pula, tentu hasilnya tidak akan berbeda. Ketika hasilnya berbeda, dan bahkan sangat bertolak belakang, maka tidaklah berlebihan jika muncul dugaan ada yang tidak beres dalam survei itu.

Lepas dari pihak mana yang lancung, semestinya hitung cepat itu merupakan sebuah metode yang menguntungkan publik. Dengan quick qount, publik bisa segera tahu siapa pemenang pemilu. Meskipun harus dipahami pula bahwa hasil hitung cepat itu, barulah hasil sementara, bukan hasil final. Tetapi dengan metodologi yang benar, akurat, dan tidak manipulatif, hitung cepat sesungguhnya telah memberi gambaran pihak mana yang unggul dalam penghitungan suara. Apalagi pengalaman telah membuktikan, bahwa selama ini hasil penghitungan dari lembaga survei yang kredibel dan berintegritas, selalu cocok, tak meleset dari versi penghitungan nyata.

Karena validitasnya itu pulalah, tidaklah keliru jika menempatkan hasil quick count sekaligus sebagai pembanding dan kontrol atas penghitungan nyata versi Komisi Pemilihan Umum. Hitung cepat menjadi referensi publik, dan pada saat yang sama menjadi alat untuk mencegah potensi manipulasi. Karena posisi yang vital inilah, maka secepatnya pihak yang berkompeten mengatur aturan main lembaga survei secepatnya turun tangan, menyidik pihak mana yang sesungguhnya melakukan praktik abal-abal. Siapa pihak yang memanipulasi data dan siapa pula pihak yang lembang, mesti secepatnya diungkap agar publik segera memeroleh kepastian.

Dua versi berbeda itu, jelas hanya membingungkan publik tentang siapa yang sesungguhnya presiden pilihan rakyat itu? Beda versi itu berpotensi pula menciptakan ketegangan, kecemasan, dan gesekan di akar rumput ketika tidak ada pihak yang legowo mengakui kekalahannya. Akhirnya proses pemilihan presiden ini pun menjadi berlarut-larut. Kita tentu tidak menginginkan energi bangsa ini terkuras oleh persoalan yang sebenarnya tidak perlu itu. Karena itulah, KPU sebagai penentu akhir, mesti transparan, bekerja benar, dan tak pernah tergoda untuk bermain lancung.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

smartorial

Rate this article

0

Log in