Home | Jurnal Banjarmasin | Smartorial : Akhir Sebuah Ritual

Smartorial : Akhir Sebuah Ritual

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Ritual Piala Dunia 2014 pun berakhir. Pergelaran yang disebut-sebut sebagai salah satu gelaran Piala Dunia paling seru, itu pun mencapai klimaksnya di kuil sepakbola Brasil, Stadion Maracana. Terlampau banyak kisah, kontroversi, dan drama yang melibatkan 32 negara. Dari setampuk gol yang memecahkan rekor gol terbanyak sepanjang zaman, kejutan-kejutan dari tim underdog, hingga tersingkirnya tim-tim favorit di fase yang teramat dini. Tetapi satu hal yang tidak bisa dielakkan, lepas dari cerita suka dan duka, sepakbola telah menghadirkan kegembiraan.

Partai pamungkas yang menghadapkan Jerman dengan Argentina, dua tim dengan catatan sejarah juara, adalah pelengkap kebahagiaan itu. Pada akhirnya, memang Jermanlah juaranya. Argentina pun menangis. Tetapi begitulah, dalam setiap pertandingan memang harus ada yang menang dan kalah.

Sejarah pun tercipta: Jerman menjadi tim Eropa pertama yang berhasil menaklukkan benua Amerika di kuil sepakbola Brasil, Stadion Maracana. Tentu raihan itu bukan hasil kerja semalam. Sebelum gelar di Maracana itu, Jerman berkali-kali tersandung, jatuh, dan merasakan betapa pahit kegagalan. Mereka pasti merasakan betapa sakitnya ketika hanya menjadi penonton pada laga final Piala Dunia 2006, ketika hajatan itu digelar di tanah mereka. Kesakitan yang sama, mungkin dirasakan Brasil yang diluluhlantakkannya di partai semifinal dengan hasil akhir yang amat fantastis itu.

Tetapi begitulah, mental seorang juara memang harus diuji, bagaimana ketika harus menerima kekalahan, untuk kemudian bangun dan berjuang menjadi petarung yang tangguh. Kita pun dihadapkan pada situasi yang sama, sekalipun pada panggung yang berbeda, ketika harus menyikapi hasil hitung cepat pemilihan umum presiden. Bedanya, tak ada pihak yang merasa menang atau kalah, karena dua kubu merasa keluar sebagai pemenang.

Menunggu 22 Juli saat KPU menentukan presiden pilihan rakyat, dari pertarungan panjang itu pun, menjadi semakin menegangkan. Apalagi ketika tak ada skenario kalah, baik pada kubu calon Presiden Prabowo maupun pihak Joko Widodo. Tim Panser Jerman telah mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan harus ditempuh melewati perjuangan, bukan melalui kecurangan. Kekalahan bukanlah akhir, karena kekalahan itu justru akan menjadikan pihak yang kalah menjadi semakin kuat dan terlatih.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

smartorial

Rate this article

0

Log in